Dampak Buruk Kekerasan Terhadap Anak

Anak adalah titipan dari Allah SWT. Mereka adalah generasi penerus yang juga merupakan aset kita untuk masa depan kelak.

Kekerasan Pada Anak di Indonesia Masih Tinggi

Menurut Unicef Indonesia, tidak ada data nasional tentang kekerasan terhadap anak yang tersedia di Indonesia. Sementara itu, meskipun terbatas pada kabupaten dan provinsi tertentu, studi yang ada menunjukkan indikasi yang jelas bahwa banyak anak di negara ini mengalami kekerasan. Dalam sebuah survei tahun 2009 di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Aceh, Papua, dan Jawa Tengah proporsi anak yang mengalami kekerasan dalam berbagai bentuk usia 10 sampai 18 tahun dilaporkan sangat tinggi.

Sementara itu, Survey Kelompok Indikator Berlapis (MICS) tahun 2011, yang dilakukan di tiga kabupaten di Provinsi Papua, menunjukkan antara 67 hingga 79 persen anak di bawah usia 15 telah dihukum secara fisik, dengan 24-31 persen yang bahkan terkena hukuman fisik yang berat. Dalam banyak kasus, mereka yang seharusnya bertanggung jawab untuk melindungi anak-anak, yaitu orang tua, para pengasuh, guru, dll malah menjadi pelaku kekerasan tersebut.

Kekerasan Pada Anak Dilakukan Oleh Orang Terdekat

Kekerasan pada anak sangat mungkin terjadi dilakukan oleh kerabat atau keluarga yang paling dekat dengannya. Bisa jadi kekerasan yang terjadi berasal dari bapak, ibu, saudara, guru atau bahkan pengasuhnya. Kekerasan ini terkadang tidak disadari oleh pelakunya. Kenapa? Karena ketidaktahuan bahwa tindakan yang dilakukan ternyata memberikan dampak buruk pada anak.

Bentuk kekerasan yang umumnya terjadi bisa berupa fisik maupun psikis. Kekerasan ini, baik fisik maupun psikis sangat berpengaruh pada anak. Umumnya akan meninggalkan bekas, baik itu trauma psikis maupun bekas luka fisik. Bentuk trauma psikis terkadang sulit untuk diketahui. Padahal efek ke depannya justru lebih berbahaya. Unuk itu, kita harus mengetahui apa saja yang bisa membuat anak trauma.

Bullying Pada Anak & Pengaruhnya

Contoh kecil yang sering ditemui adalah saat orangtua mengatakan atau memanggil anaknya dengan sebutan-sebutan fisik yang secara tidak langsung mencela si anak. Misalnya: si pesek, si gendut, si gajah, si pendek dan lain-lain. Kelihatannya sangat sepele ya Bunda.. Tetapi, ternyata panggilan-panggilan itu bisa membuat hati si kecil terluka. Efeknya, bisa kita lihat saat itu juga atau saat ia sudah menjadi dewasa.

Anak yang biasa mendapatkan pem-bully-an semacam ini potensial menjadi sangat agresif dan setelah ia menjadi orangtua akan berlaku kejam kepada anak-anaknya kelak. Orangtua agresif melahirkan anak-anak yang agresif pula.

Anak-anak yang sering dimarahi orangtuanya, dan diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (copying mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri (Unicef, 1986).

Kekerasan psikis sulit diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas luka yang nyata seperti pada kekerasan fisik. Dampaknya, si anak akan memanifestasikan hal ini dalam beberapa bentuk seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan memiliki sahabat, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.

Tanggungjawab Kita Para Orangtua?

Seram sekali efeknya ya Bunda.. oleh karena itu, jangan sekali-sekali melukai si buah hati. Efek bola salju yang akan diperoleh kelak menjadikan anak keturunan kita agresif dan sebagainya. Mari kita jaga si kecil dengan kasih sayang dan pendidikan yang baik. Beri suri tauladan yang baik. Kenali dengan siapa anak kita bermain? Apakah anak kita jadi korban bullying di sekolahnya?